Syekh Nawawi Al-Bantani : Sang Maha Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah
Thursday, January 01, 2026
Siapa yang tidak kenal dengan Syekh Nawawi Al-Bantani : Sang Maha Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah. Seorang ulama dari desa kecil di Banten bisa menjadi guru bagi Kiai Haji Hashim Ash'ari, pendiri NU dan Kiai Haji Ahmad Dalan, pendiri Muhammadiyah. Lebih dari 100 kitab karyanya dipelajari bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Makkah dan berbagai penjuru dunia Islam. Dialah Sheikh Muhammad Nawawi al-Bantani yang dijuluki Sayid Ulama al-Hijaz, pemimpin para ulama di Tanah Suci. Sheikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani lahir di Tanara, Serang, Banten.
Sebagian sumber menyebut 1230 Hijriyah atau 1813 Masehi, sebagian lain 1815 Masehi. Penamaan al-Bantani menunjukan asal Banten, al-Jawi merujuk pada kawasan Melayu Nusantara. Ia berasal dari keluarga ulama, ayahnya Sheikh Umar bin Arabi penghulu Tanara, ibunya Nyai Zubaidah. Dari jalur ayah, nasabnya tersambung ke lingkungan Kesultanan Banten hingga Wali Songo dan ditarik kepada Sayyidina Husain.
Model ginealogis dan tradisi keilmuan ini menguatkan otoritasnya di kemudian hari. Pendidikan dasar dimulai di rumah, di bimbing ayahnya. Ia belajar bahasa Arab, Fikih, Tauhid, dan Tafsir. Pada usia sekitar 8 tahun, ia melanjutkan belajar kepada Kiyai Haji, Sahal di Banten, dan Sheikh Baing Yusuf di Purwakarta. Sebelum 15 tahun ia sudah mulai mengajak. Pada usia remaja, ia berangkat ke Makkah untuk haji, dan menetap beberapa tahun untuk belajar di Haramain.
Gurunya antara lain, Sheikh Ahmad al-Nahrawi, Sheikh Ahmad al-Dimyati, Sheikh Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Shafi'i di Makkah, serta Sheikh Muhammad Hatib al-Hanbali di Madinah.
Jejaring ini membawanya masuk ke arus utama keilmuan dunia Islam. Sekitar 1831, ia kembali ke Banten. Ia berdakwah dan bersuara kritis terhadap kolonialisme Hindia Belanda. Aktivitas ini menimbulkan pengawasan, ia dibatasi berceramah. Melihat situasi itu, ia memutuskan kembali ke Makkah untuk menetap. Ia tinggal di kawasan Syi'ib Ali. Rumahnya berkembang menjadi pusat belajar.
Dari sana, ia mengajar santri dari Nusantara dan berbagai negeri. Menulis, serta memperluas pengaruh intelektual tanpa tekanan politik kolonial. Produktivitas tulisannya besar. Ia menulis lebih dari 100 kitab yang mencakup tafsir, fikih, tasawuf, akidah, dan hadis. Gaya penulisan cenderung jelas, sistematis, dan mudah diajarkan di lingkungan pesantren. Karya tafsir utamanya dikenal sebagai tafsir al-munir. Metodenya memadukan penjelasan global dan analitis. Makna kosa kata, irob, qiroah, asbab an-nuzul, dan hadis terkait. Karya ini memperkuat posisinya sebagai mufasir berkaliber internasional dari Nusantara.
Di bidang fikih, madzhab syafi'i, karya yang banyak dipakai antara lain nihayat tuzaid, Kashifatu Saja, Syarah Safinatun Najah, Sulam Al-Munajah, dan Ukudullu Jain. Di bidang akhidah asyariah, diantaranya Tijan Ad-Durari, Nuruz Zalam, Syarah Akhidatul Awam, dan Fathul Majid. Di bidang tasawuf yang berorientasi etika ala Al-gazali, antara lain, Maroqi Al-Ubudiyah, Salalim Al-Fudalah, dan Nasoihul Ibad.
Perannya menonjol sebagai pensyarah dan penyaji ulang warisan klasik agar terstruktur dan mudah diajarkan. Pengaruh penting lainnya tampak pada murid-muridnya, antara lain KH. Hashim Ash'ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Khalil Bangkalan, Sheikh Mahfud Atarmasi, dan KH. Asnawi.
Melalui jejaring murid, gagasan dan disiplin keilmuannya mengalir ke dua arus besar Islam Indonesia, NU, dan Muhammadiyah, serta kebanyakan pesantren di musantara.
Di ranah sosial politik, sikap anti-kolonialnya terdokumentasi pada masa pulang singkat ke Banten.
Setelah menetap di Makkah, pengaruhnya terhadap gerakan perlawanan jalan melalui transmisi ilmu dan pembentukan kader. Para murid yang kembali ke tanah air turut menggerakan perlawanan dan pembaharuan pendidikan Islam.
Dalam tradisi pesantren, Sheikh Nawawi dipandang sebagai bapak intelektual pesantren nusantara, karena kitab-kitabnya menjadi tulang punggung kurikulum, fikih, akhidah, tafsir, dan tasawuf.
Standardisasi materi melalui karya-karya yang membantu menyatukan bahasa keilmuan di banyak pesantren. Sejumlah kisah karomah beredar luas dalam literatur tradisi. Namun, narasi ini menempatkannya sebagai bagian dari penghormatan kultural terhadap kesolehan beliau dan memenjadikannya fokus utama.
Fokus utama warisan yang dapat diverifikasi adalah karya ilmiah, pembinaan murid, dan pengaruh kurikulum.
Hingga kini, kitab-kitab Sheikh Nawawi masih digunakan secara luas di pesantren. Penerbitan ulang dan kajian akademis modern menunjukkan keperlanjutan relasensinya. Corak pemikirannya mewakili wasatiyah moderasi dengan sintesis antara keteguhan bermadzhab, tasawuf etis, dan penekanan pada adab dalam belajar mengajar.
Kesimpulannya, posisi Sheikh Nawawi al-Bantani sebagai sayid ulama al-Hijaz dan terujukan utama dunia pesantren ditopang oleh tiga hal. Produksi ilmiah yang luas dan terstruktur, caringan murid yang strategis, serta kemampuan menjembatani tradisi klasik dengan kebutuhan pengajaran praktis. Warisan ini terus hidup melalui kurikulum pesantren dan kontribusi murid-muridnya pada pendidikan dan kebangsaan Indonesia.
